Testosteron rendah sering kali tidak terasa seperti sebuah penyakit. Tidak ada nyeri, tidak ada demam, dan tidak ada tanda yang benar-benar jelas. Justru inilah yang membuat kondisi ini berbahaya. Yang terjadi hanyalah perubahan kecil yang muncul secara perlahan. Anda mungkin mulai merasa lebih mudah lelah, lebih mudah marah, dan tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya, hingga suatu saat Anda menyadari bahwa Anda sudah bukan versi terbaik dari diri Anda sendiri.
Pada artikel ini, kita akan membahas beberapa tanda hormon testosteron rendah yang perlu diketahui oleh pria. Jika Anda mulai merasakan tanda-tanda ini, sebaiknya pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan kadar testosteron agar kondisi tubuh dapat segera diperbaiki.
1. Mudah Lelah
Testosteron berperan dalam produksi sel darah merah. Ketika kadar testosteron rendah, distribusi oksigen ke otot akan berkurang, sehingga tubuh menjadi lebih cepat lelah. Rasa lelah ini berbeda dengan kelelahan biasa, karena tidak membaik meskipun sudah beristirahat cukup.
Kondisi ini juga dapat menyebabkan penurunan aktivitas harian. Tubuh terasa cepat “drop” di siang hari, kemampuan kerja menurun, sulit fokus, mudah terdistraksi, hingga muncul kondisi yang sering disebut sebagai brain fog.
2. Gangguan Tidur
Testosteron rendah dapat menyebabkan gangguan tidur dan kualitas tidur yang buruk, sehingga menciptakan lingkaran masalah yang berulang. Kadar testosteron yang rendah dapat memicu insomnia, tidur yang terputus-putus, berkurangnya fase tidur REM, serta munculnya keringat di malam hari.
Gangguan ini berdampak pada kualitas istirahat secara keseluruhan. Pria dengan testosteron rendah sering mengalami tidur yang lebih ringan, sering terbangun di malam hari, dan kurang mendapatkan tidur yang benar-benar memulihkan tubuh. Fase REM, yaitu tahap tidur yang penting untuk pemrosesan emosi dan memori, juga menjadi berkurang.
Akibatnya, tubuh tetap terasa lelah meskipun sudah tidur. Rasa ngantuk muncul di siang hari, bahkan setelah makan, dan kondisi ini dapat terus berulang.
3. Emosi Tidak Stabil
Testosteron memiliki peran penting dalam mengatur fungsi otak, terutama pada area yang berkaitan dengan emosi. Di dalam otak terdapat reseptor testosteron yang tersebar di berbagai area penting pengatur emosi. Ketika kadar testosteron cukup, area ini bekerja secara seimbang. Namun ketika testosteron menurun, keseimbangan tersebut terganggu dan emosi menjadi lebih sulit dikendalikan.
Testosteron rendah dapat menurunkan neurotransmitter penting seperti dopamin, serotonin, dan asetilkolin. Hal ini dapat menyebabkan depresi, kecemasan, penurunan fungsi kognitif, serta brain fog.
Gejala yang sering muncul antara lain mudah marah, lebih sensitif, mudah overthinking, motivasi menurun, hingga perubahan sifat. Beberapa pria bahkan merasa hidup menjadi hampa dan tidak lagi menyenangkan.
4. Badan Menjadi Lebih Gemuk
Testosteron berperan dalam pembentukan otot dan pembakaran lemak. Ketika kadarnya rendah, tubuh cenderung mengalami peningkatan lemak, terutama di area perut. Selain itu, massa otot juga akan berkurang.
Beberapa tanda yang sering terlihat antara lain perut yang semakin buncit, otot mengecil, serta dada yang mulai membesar (gynecomastia ringan). Meskipun sudah berolahraga, berat badan tetap sulit turun. Tubuh terasa lebih lembek dan kekuatan fisik tidak sebaik sebelumnya.
5. Gairah Seksual Menurun
Gairah seksual sangat dipengaruhi oleh hormon testosteron. Ketika kadar hormon ini menurun, maka keinginan seksual juga ikut berkurang.
Rangsangan yang sebelumnya terasa kuat menjadi tidak lagi sama. Fantasi seksual berkurang, kepuasan seksual menurun, dan penis terasa kurang sensitif dibandingkan sebelumnya.
6. Ereksi Bermasalah
Testosteron memiliki peran penting dalam menjaga struktur jaringan penis dan membantu terjadinya ereksi melalui peningkatan aliran darah ke penis.
Ketika kadar testosteron rendah, ereksi bisa menjadi bermasalah. Tanda yang sering muncul antara lain berkurangnya ereksi pagi, kesulitan mendapatkan ereksi yang cukup keras, hingga kondisi di mana penggunaan obat ereksi tidak memberikan hasil yang optimal.
Artikel ini telah direview oleh:
dr. Jefry Albari Tribowo, Sp.And, FECSM

