Belakangan ini semakin banyak anggapan bahwa semua pria yang memasuki usia 40 tahun atau lebih sebaiknya menjalani terapi testosteron (Testosterone Replacement Therapy / TRT). Anggapan ini terdengar logis karena kadar hormon testosteron memang dapat menurun seiring bertambahnya usia. Namun, secara medis, pernyataan tersebut tidak tepat.
TRT adalah terapi medis, bukan suplemen umum atau perawatan anti-aging yang diberikan berdasarkan usia saja. Dalam dunia kedokteran, setiap terapi harus diberikan berdasarkan indikasi yang jelas, bukan sekadar angka usia.
Tidak semua pria di atas usia 40 tahun mengalami kekurangan hormon testosteron. Banyak pria berusia 50 tahun atau lebih yang kadar testosteronnya masih dalam batas normal dan tidak mengalami gejala testosteron rendah. Dalam kondisi seperti ini, terapi testosteron tidak diperlukan.
Pemberian TRT pada orang yang tidak membutuhkan justru berisiko menimbulkan efek samping yang tidak perlu. Karena itu, evaluasi medis yang tepat menjadi sangat penting sebelum memulai terapi hormon.
Sebaliknya, usia muda bukan jaminan kadar testosteron selalu normal. Ada pria berusia 30-an yang mengalami testosteron rendah akibat pola hidup tidak sehat, seperti obesitas, kurang tidur, stres kronis, atau penyakit metabolik. Jika kondisi ini disertai gejala seperti libido menurun, mudah lelah, massa otot berkurang, suasana hati menurun, atau gangguan ereksi, maka terapi testosteron bisa menjadi salah satu pilihan penanganan.
Dengan kata lain, kunci terapi testosteron bukan pada usia, tetapi pada kondisi tubuh seseorang.
Diagnosis testosteron rendah tidak hanya berdasarkan keluhan, tetapi juga pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan kadar testosteron di bawah normal. Kombinasi antara gejala klinis dan hasil pemeriksaan inilah yang menjadi dasar keputusan terapi.
Penting untuk memahami bahwa TRT bukan solusi instan untuk meningkatkan energi atau performa seksual pada semua pria. Terapi ini ditujukan untuk mengembalikan kadar hormon ke rentang normal pada pria yang benar-benar mengalami defisiensi testosteron.
Pendekatan yang tepat adalah evaluasi menyeluruh terhadap gaya hidup, kondisi kesehatan, gejala yang dirasakan, dan pemeriksaan hormon. Dari situ, barulah dapat ditentukan apakah seseorang memerlukan terapi testosteron atau cukup dengan perbaikan pola hidup.
Kesimpulannya, tidak semua pria di atas usia 40 tahun membutuhkan TRT. Terapi testosteron harus diberikan berdasarkan indikasi medis yang jelas, bukan sekadar faktor usia.
Artikel ini telah direview oleh:
dr. Jefry Albari Tribowo, Sp.And, FECSM

