Penyebab Wanita Lebih Mudah Orgasme Saat Masturbasi

Dokter Jefry,,

Sy wanita yg sejak SMP sudah biasa masturbasi (mainkan klitoris), rutin sy lakukan hingga setelah menikah. Klimaks sy sangat tergantung fantasy. Pertanyaanku:

  1. Dok, kok sekarang ini makin sulit sy terangsang (oleh fantasy) ya? Apa karna udah jenuh? Tapi sekali nemu fantasy yg bikin ‘on’ banget, durasi masturbasi yg dibutuhkan menuju klimaks kok cepat banget?
  2. Sampai setelah nikah sy tidak pernah merasakan orgasme oleh (sentuhan) suami (foreplay & penetrasi). Apa karna sdh tersuggesti atau ada mindset bahwa sy bisa klimaks (hanya) kalau sy masturbasi. Suami jg sudah main di daerah klitoris tp nggak bisa orgasme. Jd sering sy pake jari & fantasi sy dulu, setelah klimaks baru penetrasi. 

Capek juga..

Mungkin Dokter ada solusi..?

Terima kasih, Dokter Jefry 

 

Masturbasi pada wanita pada dasarnya adalah hal yang bisa terjadi secara normal. Salah satu cara yang paling umum adalah melalui stimulasi klitoris, karena area ini memang memiliki ribuan ujung saraf yang sangat sensitif. Bahkan secara fisiologis, mayoritas wanita lebih mudah mencapai orgasme melalui stimulasi klitoris dibandingkan penetrasi vagina saja. Artinya, jika seorang wanita tidak orgasme hanya dari penetrasi, itu bukan kelainan.

Yang sering tidak disadari adalah bagaimana kebiasaan masturbasi dalam jangka panjang dapat “melatih” otak dan tubuh untuk merespons rangsangan tertentu saja. Misalnya, teknik tangan yang spesifik, tekanan tertentu, posisi tertentu, atau fantasi seksual tertentu. Ketika pola ini diulang bertahun-tahun, otak menjadi terbiasa dengan jenis stimulasi tersebut.

Akibatnya, saat berhubungan dengan pasangan, sensasi yang dirasakan berbeda sehingga respons orgasme menjadi lebih sulit muncul.

Fenomena ini mirip dengan konsep yang pada pria sering disebut death grip syndrome, yaitu kondisi ketika seseorang terbiasa dengan stimulasi masturbasi tertentu sehingga sulit mencapai klimaks dengan stimulasi yang berbeda. Walaupun istilah ini bukan diagnosis medis resmi, konsep adaptasi rangsangan pada otak memang nyata terjadi.

Selain faktor fisik, orgasme pada wanita sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Pikiran, mood, rasa aman, kedekatan emosional, dan kenyamanan dengan pasangan memegang peran besar. Libido wanita juga cenderung lebih kontekstual dibandingkan pria. Stres, kebosanan, rutinitas, atau kelelahan mental dapat membuat fantasi seksual menjadi kurang efektif dibandingkan sebelumnya.

Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa fantasi yang dulu mudah membangkitkan gairah sekarang terasa kurang kuat. Otak bisa mengalami semacam “kejenuhan dopamin” ketika rangsangan yang sama digunakan berulang-ulang dalam waktu lama.

Menariknya, ketika seseorang menemukan fantasi baru yang terasa lebih kuat, orgasme bisa terjadi lebih cepat. Ini menunjukkan bahwa respons seksual sebenarnya masih ada, hanya pola rangsangannya yang berubah.

Kondisi sulit orgasme dengan pasangan setelah terbiasa masturbasi bukan berarti ada kerusakan fungsi seksual. Lebih tepat jika dipahami sebagai perbedaan pola stimulasi yang sudah terlanjur terbentuk selama bertahun-tahun.

Solusi utama bukan menghentikan masturbasi secara drastis, tetapi mengubah pola respons seksual secara perlahan.

Langkah pertama adalah mengurangi ketergantungan pada fantasi atau teknik masturbasi tertentu. Beri kesempatan bagi tubuh untuk belajar merespons stimulasi dari pasangan. Proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran.

Komunikasi dengan pasangan juga sangat penting. Pasangan tidak bisa menebak jenis stimulasi yang disukai tanpa diberi tahu. Mengarahkan pasangan dalam memberikan stimulasi klitoris, ritme sentuhan, atau durasi foreplay sering kali sangat membantu.

Tidak jarang stimulasi bersama pasangan memang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan masturbasi. Secara umum, orgasme saat masturbasi bisa terjadi dalam beberapa menit, sedangkan dengan pasangan bisa memerlukan waktu lebih panjang. Ini normal.

Eksplorasi variasi juga dapat membantu, seperti memperpanjang foreplay, mencoba posisi berbeda, atau menghadirkan fantasi yang aman bersama pasangan. Pada beberapa orang, membayangkan fantasi sambil distimulasi pasangan dapat menjadi jembatan transisi dari orgasme solo menuju orgasme bersama.

Yang paling penting adalah mengubah mindset bahwa orgasme hanya bisa terjadi melalui masturbasi. Pikiran seperti ini tanpa disadari bisa menjadi sugesti yang menghambat respons seksual.

Seksualitas adalah proses belajar sepanjang hidup, bukan kemampuan yang statis. Tubuh dan otak bisa beradaptasi kembali selama diberi kesempatan.

Jika kesulitan orgasme terus berlangsung dan mengganggu hubungan atau kualitas hidup, konsultasi dengan dokter andrologi atau tenaga kesehatan yang memahami kesehatan seksual dapat membantu mengevaluasi faktor fisik maupun psikologis yang mungkin berperan.

Pada akhirnya, tujuan hubungan seksual bukan hanya orgasme, tetapi koneksi emosional, kenyamanan, dan kebersamaan dengan pasangan. Orgasme biasanya akan mengikuti ketika semua aspek tersebut terbangun dengan baik.

Artikel ini telah direview oleh:

dr. Jefry Albari Tribowo, Sp.And, FECSM

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top