Kebiasaan Sepele yang Diam-Diam Merusak Ginjal

Ginjal merupakan salah satu organ vital yang bekerja tanpa henti selama 24 jam sehari. Organ ini bertugas menyaring limbah metabolisme, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, mengatur tekanan darah, hingga membantu produksi hormon tertentu di dalam tubuh.

Sayangnya, banyak orang baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan ginjal ketika fungsinya sudah menurun drastis dan harus menjalani cuci darah. Yang lebih mengkhawatirkan, gagal ginjal kini tidak hanya menyerang usia lanjut. Dalam praktik sehari-hari, semakin banyak pasien usia 20–30 tahun yang mulai mengalami penurunan fungsi ginjal akibat pola hidup yang kurang sehat.

Berikut lima kebiasaan yang sering dianggap sepele tetapi dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal apabila dilakukan terus-menerus.

1. Sering Menahan Buang Air Kecil

Menahan buang air kecil sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun, jika menjadi kebiasaan, kondisi ini dapat memberikan tekanan berlebih pada saluran kemih dan kandung kemih.

Normalnya, urine yang diproduksi ginjal akan mengalir menuju kandung kemih sebelum dikeluarkan. Ketika seseorang terus-menerus menahan kencing, kandung kemih akan semakin penuh sehingga tekanan di dalamnya meningkat. Bila berlangsung lama, tekanan tersebut dapat memengaruhi saluran kemih bagian atas bahkan hingga ginjal.

Selain itu, urine yang terlalu lama tertahan juga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri sehingga infeksi saluran kemih lebih mudah terjadi. Pada kondisi tertentu, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih karena kristal mineral yang seharusnya ikut keluar bersama urine menjadi lebih mudah mengendap.

Karena itu, bila sudah muncul keinginan untuk buang air kecil dan kondisi memungkinkan, sebaiknya segera ke toilet dan hindari kebiasaan menahannya terlalu lama.

2. Gula Darah Tinggi yang Tidak Terkontrol

Diabetes melitus merupakan penyebab tersering gagal ginjal kronis di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ginjal bekerja menyaring darah, termasuk glukosa yang beredar di dalam tubuh. Ketika kadar gula darah terus-menerus tinggi, ginjal dipaksa bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah halus di dalam ginjal sehingga kemampuan penyaringan perlahan menurun.

Selain meningkatkan beban kerja ginjal, diabetes juga memicu proses peradangan kronis dan stres oksidatif yang semakin mempercepat kerusakan jaringan ginjal.

Salah satu tanda awal kerusakan ginjal akibat diabetes adalah munculnya protein atau albumin di dalam urine. Karena itu, penderita diabetes dianjurkan melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala, termasuk pemeriksaan urine dan kadar kreatinin.

Banyak masyarakat masih percaya bahwa obat diabetes dapat merusak ginjal. Padahal, anggapan tersebut tidak tepat. Justru pengobatan diabetes yang teratur membantu menjaga kadar gula tetap terkendali sehingga memperlambat kerusakan ginjal.

3. Tekanan Darah Tinggi yang Tidak Diobati

Hipertensi juga merupakan penyebab utama gagal ginjal kronis.

Tekanan darah yang terus-menerus tinggi akan merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal, termasuk nefron yang berfungsi sebagai unit penyaring darah. Jika kerusakan berlangsung lama, kemampuan ginjal untuk menyaring limbah akan semakin menurun.

Hubungan antara ginjal dan tekanan darah bersifat dua arah. Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan ginjal, sementara ginjal yang sudah rusak juga dapat menyebabkan tekanan darah semakin sulit dikendalikan.

Karena itu, penderita hipertensi perlu rutin mengontrol tekanan darah, menjalani pola hidup sehat, dan mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. Jangan menunggu tekanan darah sangat tinggi atau muncul gejala baru memulai pengobatan.

Memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah juga dapat membantu memantau kondisi secara rutin sehingga perubahan tekanan darah dapat diketahui lebih dini.

4. Mengonsumsi Obat dan Jamu Secara Sembarangan

Tidak semua obat aman dikonsumsi tanpa pengawasan tenaga medis. Beberapa jenis obat, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi atau dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.

Contohnya adalah beberapa golongan obat antinyeri, antibiotik tertentu, obat lambung tertentu, maupun obat-obatan lain yang memerlukan penyesuaian dosis sesuai fungsi ginjal.

Bukan berarti obat-obatan tersebut berbahaya bagi semua orang. Sebagian besar tetap aman bila digunakan sesuai indikasi, dosis yang tepat, serta berada di bawah pengawasan dokter.

Hal yang sama juga berlaku untuk jamu, herbal, maupun suplemen. Banyak produk herbal yang belum diketahui secara pasti kandungan maupun dosisnya. Jika dikonsumsi berlebihan atau mengandung zat tertentu dalam jumlah tinggi, ginjal tetap harus bekerja keras untuk memproses dan membuang zat-zat tersebut.

Bahkan vitamin yang umumnya dianggap aman pun dapat menimbulkan masalah bila dikonsumsi secara berlebihan. Prinsipnya, segala sesuatu yang berlebihan tidak selalu memberikan manfaat bagi tubuh.

Karena itu, hindari kebiasaan mengonsumsi obat, jamu, atau suplemen hanya berdasarkan rekomendasi teman atau informasi dari media sosial. Konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan, terutama bila memiliki penyakit ginjal atau penyakit kronis lainnya.

5. Kurang Minum Air Putih

Air putih memiliki peran penting dalam menjaga fungsi ginjal.

Ketika tubuh kekurangan cairan, volume darah akan menurun sehingga aliran darah menuju ginjal ikut berkurang. Akibatnya, ginjal harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan cairan di dalam tubuh.

Kurang minum juga membuat urine menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih.

Secara umum, kebutuhan cairan orang dewasa berkisar antara 1,5–2 liter per hari, meskipun jumlah ini dapat berbeda tergantung aktivitas fisik, suhu lingkungan, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.

Selain memperhatikan jumlah air putih, sebaiknya batasi konsumsi minuman tinggi gula, termasuk minuman berenergi. Produk-produk tersebut umumnya mengandung gula dalam jumlah tinggi yang dapat meningkatkan risiko diabetes dan pada akhirnya memperberat kerja ginjal.

Artikel ini telah direview oleh:
dr. Jefry Albari Tribowo, Sp.And, FECSM

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top