6 Penyakit Tersering Penyebab Disfungsi Ereksi

Gangguan ereksi atau disfungsi ereksi sering kali dianggap sebagai masalah yang hanya berkaitan dengan usia atau penurunan gairah seksual. Padahal, dalam banyak kasus, gangguan ereksi justru merupakan tanda awal adanya penyakit tertentu di dalam tubuh. Tidak sedikit pria yang baru menyadari dirinya mengidap hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi setelah datang berobat karena keluhan ereksi.

Hal ini terjadi karena proses ereksi melibatkan kerja sama yang kompleks antara pembuluh darah, saraf, hormon, dan kondisi psikologis. Jika salah satu sistem tersebut terganggu, kemampuan penis untuk mencapai dan mempertahankan ereksi juga akan ikut menurun.

Berikut enam penyakit yang paling sering menjadi penyebab disfungsi ereksi pada pria.

1. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama gangguan ereksi. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi akan merusak lapisan pembuluh darah sehingga dindingnya menjadi lebih kaku dan kurang elastis.

Kerusakan ini tidak hanya terjadi pada pembuluh darah jantung atau otak, tetapi juga pada pembuluh darah kecil yang memasok darah ke penis. Akibatnya, aliran darah menuju penis menjadi berkurang sehingga ereksi menjadi lebih sulit dicapai ataupun dipertahankan.

Seseorang dikatakan mengalami hipertensi apabila hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan angka 140/90 mmHg atau lebih pada minimal dua kali pemeriksaan yang berbeda. Pria dengan riwayat keluarga hipertensi, obesitas, atau usia yang semakin bertambah sebaiknya melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin.

Penanganan hipertensi tidak hanya mengandalkan obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan, mengurangi konsumsi garam, rutin berolahraga, serta berhenti merokok. Bila sudah memerlukan obat antihipertensi, konsultasikan dengan dokter agar terapi yang diberikan tetap mempertimbangkan kesehatan fungsi seksual.

2. Kolesterol Tinggi

Kolesterol tinggi merupakan penyebab lain yang sangat sering ditemukan pada pria dengan gangguan ereksi.

Jika kadar kolesterol, terutama LDL atau kolesterol jahat, terlalu tinggi dalam waktu lama, lemak akan menumpuk di dinding pembuluh darah membentuk plak aterosklerosis. Lama-kelamaan plak tersebut mempersempit pembuluh darah dan menghambat aliran darah menuju penis.

Karena ukuran pembuluh darah penis lebih kecil dibandingkan pembuluh darah jantung, penyumbatan biasanya muncul lebih dahulu pada penis. Oleh sebab itu, gangguan ereksi sering dianggap sebagai tanda dini penyakit kardiovaskular.

Untuk mengevaluasi kolesterol, pemeriksaan laboratorium yang ideal meliputi kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida. Pemeriksaan melalui sampel darah vena memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan pemeriksaan kolesterol total menggunakan darah dari ujung jari.

Jika kadar kolesterol tinggi, pengobatan meliputi perubahan pola makan, olahraga teratur, penurunan berat badan, serta obat penurun kolesterol bila memang diperlukan sesuai penilaian dokter.

3. Diabetes Melitus

Diabetes merupakan salah satu penyebab disfungsi ereksi yang paling sering ditemukan dalam praktik klinis.

Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama akan merusak pembuluh darah, mengganggu fungsi saraf, meningkatkan stres oksidatif, dan menurunkan produksi hormon testosteron. Kombinasi berbagai gangguan tersebut membuat proses ereksi menjadi jauh lebih sulit.

Tidak jarang pria baru mengetahui dirinya menderita diabetes setelah datang dengan keluhan gangguan ereksi. Karena itu, pemeriksaan gula darah menjadi bagian penting dalam evaluasi pasien dengan keluhan seksual.

Pemeriksaan yang dianjurkan meliputi gula darah puasa, gula darah dua jam setelah makan, dan pemeriksaan HbA1c yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama tiga bulan terakhir. HbA1c sering kali memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan pemeriksaan gula darah sesaat.

Kontrol gula darah melalui pola makan sehat, olahraga rutin, penurunan berat badan, dan penggunaan obat sesuai anjuran dokter dapat membantu memperbaiki kesehatan pembuluh darah sekaligus meningkatkan fungsi ereksi.

4. Asam Urat Tinggi

Banyak orang menganggap asam urat hanya menyebabkan nyeri sendi. Padahal, kadar asam urat yang tinggi juga dapat memicu peradangan kronis yang berdampak pada kesehatan pembuluh darah.

Peradangan tersebut dapat mengganggu sirkulasi darah, termasuk aliran darah menuju penis. Oleh karena itu, kadar asam urat juga sering diperiksa pada pria yang mengalami gangguan ereksi.

Pada pria, kadar asam urat umumnya dianggap normal apabila berada di bawah 7 mg/dL. Namun, keputusan pemberian obat tidak hanya bergantung pada angka laboratorium, melainkan juga mempertimbangkan adanya gejala serta kondisi klinis pasien.

Mengurangi konsumsi makanan tinggi purin seperti jeroan, beberapa jenis makanan laut, daging olahan, dan minuman beralkohol dapat membantu menjaga kadar asam urat tetap terkendali.

5. Stres Berkepanjangan

Tidak semua penyebab gangguan ereksi berasal dari penyakit fisik. Faktor psikologis, terutama stres kronis, juga memiliki peran yang sangat besar.

Saat seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh akan meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kondisi ini menghambat produksi testosteron dan membuat tubuh memprioritaskan aliran darah ke organ-organ vital untuk bertahan hidup, bukan ke organ reproduksi.

Akibatnya, ereksi menjadi lebih sulit terjadi meskipun kondisi pembuluh darah dan hormon sebenarnya masih cukup baik.

Dalam praktik sehari-hari, banyak pria muda mengalami gangguan ereksi akibat tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kecemasan berlebihan, atau ketakutan gagal saat berhubungan seksual. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi lingkaran yang semakin memperburuk fungsi seksual.

Mengelola stres dengan olahraga, tidur yang cukup, komunikasi yang baik dengan pasangan, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan merupakan langkah penting dalam mengatasi masalah ini.

6. Testosteron Rendah

Testosteron merupakan hormon utama pria yang berperan dalam menjaga gairah seksual, pembentukan jaringan penis, produksi sperma, massa otot, hingga fungsi ereksi.

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron memang akan mengalami penurunan secara bertahap. Namun, pada sebagian pria, penurunan tersebut terjadi lebih cepat akibat obesitas, penyakit kronis, gangguan hormon, atau proses penuaan.

Gejala testosteron rendah tidak hanya berupa gangguan ereksi, tetapi juga penurunan libido, berkurangnya ereksi pagi hari, mudah lelah, penurunan massa otot, hingga perubahan suasana hati.

Pada pria dengan gejala tersebut, pemeriksaan kadar testosteron perlu dipertimbangkan. Hasil laboratorium sebaiknya dievaluasi oleh dokter yang memahami kesehatan reproduksi pria karena interpretasi kadar testosteron tidak hanya melihat angka semata, tetapi juga mempertimbangkan keluhan dan kondisi klinis pasien.

Pada pasien yang memenuhi indikasi, terapi penggantian testosteron dapat membantu memperbaiki kualitas ereksi, meningkatkan libido, dan bahkan mengurangi kebutuhan obat ereksi pada sebagian pasien.

Artikel ini telah direview oleh:
dr. Jefry Albari Tribowo, Sp.And, FECSM

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top